Liputan Festival

Eksotika Bromo 2017, Melestarikan Nilai-nilai Masyarakat Tengger Masa Lalu

Selasa, 29 Aug 2017             Apolonius Lase             kali dilihat

Ada yang berbeda dalam rangkaian acara Yadnya Kasada 2017, yang berlangsung 7-8 Juli, di Laut Pasir Tengger, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni acara Eksotika Bromo. Acara ini digagas oleh Satu Tujuan Kreatif, Indonesia Art management Company, yang mendampingi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Selain untuk menyemarakkan Upacara Yadnya Kasada 2017, Eksotika Bromo juga sekaligus memaknai 200 tahun terbitnya buku fenomenal The History of Java karya Thomas Stamford Raffless (1817). Dalam buku itu terdapat catatan tentang kehidupan manusia Tengger, Jawa Timur.

Dalam Eksotika Bromo, yang dibuka pada sore hari 7 Juli, ini para pengunjung disuguhi penampilan berbagai atraksi seni, seperti tarian Jaranan Slining dari Lumajang, Jaranan Wahyu Tunas Budaya, musik tradisional Jegog Suar Agung dari Jembrana (Bali), sendratari kolosal Kidung Tengger, Puisi KidungTengger yang dibacakan aktris Ayushita. Ikut memeriahkan juga Grup Singo Ulung dari Bondowoso dan Perkusi Daul Madura dan Tari Mahameru.

Hadir dalam festival ini Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, beserta muspida pemerintah Probolinggo. Selain itu, tokoh pendidikan yang juga mantan Menteri Pendidikan Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro turut menyaksikan acara yang mengusung tema “Penghargaan Akan Hidup, Penghargaan Akan Alam yang menghidupi” ini. Pimpinan Bank Jatim, sesepuh masyarakat, dan tokoh adat terlihat berbaur dengan masyarakat Tengger serta wisatawan nusantara dan mancanegara mengikuti acara demi acara dengan penuh khidmat.

Dalam sambutannya, Puput Tantriana Sari memberikan apresiasi terhadap perhelatan acara yang baru pertama kali digelar dan melibatkan ratusan seniman dari sejumlah daerah di Indonesia ini.

"Acara budaya ini perlu terus dilakukan menjadi agenda yang rutin setiap tahun," ujar Puput Tantriana Sari. 

Sujud Syukur

Ada pemandangan yang menarik sebelum Wiratno membacakan Memori Tengger yang dicuplik dari History of Java. Wiratno terlihat melakukan sujud syukur di atas laut pasir Kaldera Tengger dengan khusyuk. Dirjen KSDAE KLH ini menyatakan bahwa sujud syukurnya tersebut sebagai simbol bahwa setiap manusia harus lebih banyak bersyukur dan bersujud kepada Tuhan.

"Manusia adalah khalifah-Nya di muka bumi yang diberi tugas untuk menjaga semesta dengan tidak membuat kerusakan di dalamnya," ujar Wiratno.

Dalam Memori Tengger, Raffles menceritakan bahwa masyarakat Tengger masa itu hidup dalam suasana penuh damai, tertib, teratur, rajin bekerja, jujur, dan selalu tampak riang gembira, serta tanpa aksi kejahatan. Wiratno mengingatkan, nilai-nilai kebaikan yang dimiliki Tengger pada masa lalu itu harus terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang. 

Hari kedua, 8 Juli 2017, diisi dengan sendratari kolosal Kidung Tengger. Tak kalah menarik, aktris Ine Febriyanti membacakan puisi "Kidung Tengger" dengan penuh penghayatan. Penampilan tari Topeng Gunung Sari dan Musik Daul Sakera Pamekasan, jegog Suar Agung, Tari Pepe Bainea Ri Gowa dan Reog Ponorogo seakan menyihir para pengunjung untuk tidak cepat-cepat beranjak pulang. (Sumber: Diolah dari www.satutujuankreatif.com, http://bromotenggersemeru.org)